“Ketika Panen Raya Yang Seharusnya Para Petani Dieng Bergembira, Fakta Menunjukkan Sebaliknya … Ade Lang Lang HariMurti)”
Dieng sebagai salah satu daerah Dataran Tinggi dan menawarkan pemandangan alam yang begitu indah, DiengĀ memiliki potensi lahan pertanian yang cukup baik, terutama untuk komoditas sayur mayur (Kentang). Dengan landscape yang berbukit-bukit dan diapit oleh pegunungan yang menjulang perkasa. Ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang berdebit hujan tinggi, tertinggi kedua setelah Bogor. Sudah sewajarnya Dieng dapat menjadi salah satu sentra pertanian sayur mayur di Jawa Tengah bahkan Indonesia.
Harapan tinggalah harapan, sekali lagi negara absen dalam usaha menyejahterakan petani. Dalam potensi alam yang subur gemah ripah loh jinawi, ternyata dominannya para petani di sana masih hidup dibawah garis kemiskinan. Padahal sayur mayur merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, sehingga sangat wajib bagi pemerintah mengurusi alur dari produk ini agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga di seluruh penjuru negeri.
Ironis memang, tapi apa boleh buat. Apakah daya seorang petani kecil? Mereka terkungkung sistem besar yang begitu hegemoniknya mencengram alur jual-beli sayuran. Pemerintah Desa, gabungan kelompok tani (gapoktan), dan masih banyak lagi organisasi yang relevan untuk mengurusi masalah kalsik ini ternyata pun tidak banyak membawa manfaat untuk petani sayur.
Stabilisasi harga masih menjadi kendala utama. Ketika panen raya yang seharusnya para petani Dieng bergembira, fakta menunjukan sebaliknya. Para petani yang sudah berusaha penuh lebih dari 100 hari lamanya untuk merawat dan membesarkan produk sayur mayur seperti kentang harus selalu berlapang dada dan bersabar sangat.
“Kadang Rp.4000/ Kg dan bisa lebih rendah dari itu, berapa besarnya operasional yang telah dikeluarkan ?”
Point-poin lainya yang dapat membuat kita tercengang adalah :
- Dari mana petani mendapatkan permodalan ? Jika dari Bank, berapa besarnya bunga dan pokok yang harus dibayarkan saat jatuh tempo ? Mampukah panen raya menepis segala hutang-hutangnya.
- Kondisi cuaca ekstrim, melahap habis hasil panen tanpa sisa.
Yang terjadi hanyalah rintihan pedih Petani Dataran Tinggi Dieng, mereka hanya berharap kapan cobaan ini segera berakhir.
Dampak itu semua, tak sedikit masyarakat kawasan Dieng melakukan spikulatif diantaranya :
- Terjebak dalam program investasi yang menjanjikan suku bunga tinggi, Contoh : Rajawali, SS, Bowo Jenggot Dll.
- Merantau dalam keputusasaan, Hijrah ke Kalimanta, Sumatera Dll.
Lantas bagaimana ahir dari cerita dan rintihan Petani Dieng, mampukah mereka bertahan dalam terpaan zaman … ?
By : Ade Lang Lang Harimurti

June 3rd, 2011
kopmaskejajar
Posted in
Tags: 


